Peritoneum merupakan lapisan tipis jaringan yang menutupi bagian dalam perut dan sebagian besar organ. Wikipedia mengatakan Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut (peritoneum).

Peradangan biasanya merupakan hasil dari infeksi jamur atau bakteri yang disebabkan oleh cedera perut, kondisi medis yang mendasari, atau perawatan perangkat, seperti kateter dialisis.

Penyebab Peritonitis

Peradangan pada peritneum ini umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri atau jamur. Berdasarkan asal infeksinya, peritonitis dibagi menjadi dua, yaitu peritonitis primer dan peritonitis sekunder.

Peritonitis primer disebabkan oleh infeksi yang memang bermula pada peritoneum. Kondisi ini bisa dipicu oleh gagal hati dengan asites, atau akibat tindakan CAPD pada gagal ginjal kronis.

Sedangkan peritonitis sekunder terjadi akibat penyebaran infeksi dari saluran pencernaan. Kedua jenis peritonitis tersebut sangat berbahaya dan mengancam nyawa. Pada penderita sirosis, kematian akibat peritonitis bisa mencapai 40%.

Gejala Peritonitis

Gejala peritonitis bervariasi tergantung pada penyebab infeksi yang mendasari.

Gejala yang sering terjadi pada peritonitis meliputi:

  • Nyeri di perut
  • Sakit di perut yang lebih intens dengan gerakan atau sentuhan
  • Perut kembung atau distensi
  • Mual dan muntah
  • Diare
  • Sembelit atau ketidakmampuan untuk kentut
  • Output urine minimal (kencing sedikit)
  • Anoreksia, atau kehilangan nafsu makan
  • Haus yang berlebihan
  • Kelelahan
  • Demam dan menggigil.

Jika Anda berada dalam kondisi dialisis peritoneal, cairan dialisis mungkin buram atau memiliki bintik-bintik putih atau gumpalan di dalamnya. Anda juga dapat melihat adanya kemerahan atau merasa sakit di sekitar kateter.

Risiko Peritonitis

Beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko peritonitis primer adalah

  • Sirosis. Sirosis bisa menyebabkan penumpukan cairan pada rongga perut (asites) yang dapat memicu infeksi.
  • Menjalani CAPD. Menjalani CAPD tanpa memperhatikan kebersihan dan sterilitasnya berisiko menimbulkan infeksi.

Sedangkan faktor risiko pada peritonitis sekunder, antara lain adalah:

  • Pecahnya organ dalam, seperti usus buntu yang pecah pada penyakit usus buntu atau lambung yang pecah akibat tukak lambung,
  • Radang panggul.
  • Penyakit saluran pencernaan, seperti penyakit Crohn dan diverkulitis.
  • Pankreatitis.
  • Pasca pembedahan rongga perut.
  • Luka pada perut akibat tusukan pisau atau tembakan.

Diagnosis Peritonitis

Jika Anda memiliki gejala peritonitis, cari bantuan medis sesegera mungkin. Menunda pengobatan peritonitis bisa mengancam jiwa. Dokter akan bertanya tentang riwayat kesehatan dan melakukan pemeriksaan fisik lengkap. Ini akan mencakup sentuhan atau menekan pada perut, yang mungkin akan menyebabkan beberapa ketidaknyamanan.

Ada tes lain untuk membantu mendiagnosa peritonitis, di antaranya:

Tes darah, yang disebut called a complete blood count (CBC) atau hitung darah lengkap, dapat mengukur jumlah sel darah putih Anda. Jumlah sel darah putih yang tinggi biasanya menandakan peradangan atau infeksi. Kultur darah dapat membantu mengidentifikasi bakteri yang menyebabkan infeksi atau peradangan.

Jika Anda memiliki penumpukan cairan di perut Anda, dokter dapat menggunakan jarum untuk mengambil sejumlah cairan dan mengirimkannya ke laboratorium untuk analisis cairan.

Kultur cairan juga dapat membantu mengidentifikasi bakteri. Tes pencitraan, seperti CT scan dan sinar-X, dapat menunjukkan perforasi atau lubang di peritoneum seseorang. Jika dalam kondisi dialisis, dokter mungkin mendiagnosis Anda berdasarkan kondisi cairan dialisis yang tampak keruh.

Komplikasi Peritonitis

Peritonitis bisa menyebabkan beberapa komplikasi, seperti infeksi jadi menyebar ke aliran darah dan seluruh tubuh (sepsis). Kondisi ini bisa menyebabkan tekanan darah menurun drastis (syok sepsis) sehingga beberapa organ tubuh gagal berfungsi.

Komplikasi lain yang dapat muncul akibat peritonitis adalah terbentuknya abses atau kumpulan nanah pada rongga perut. Perlengketan usus juga dapat terjadi, sehingga menyebabkan usus tersumbat.

Pencegahan Peritonitis

Bagaimana mencegah peritonitis? Untuk orang-orang tertentu dengan sirosis dan asites, dokter mungkin meresepkan antibiotik untuk mencegah peritonitis.

Meskipun peritonitis dapat menjadi komplikasi dari dialisis peritoneal, itu jauh kurang umum daripada dulu karena teknologi yang ditingkatkan dan teknik perawatan diri yang diajarkan selama pelatihan awal.

Jika Anda menerima dialisis peritoneal, Anda dapat menurunkan risiko peritonitis dengan mengikuti tips berikut:

  • Cuci tangan dengan seksama, termasuk benda-benda di antara jari-jari dan di bawah kuku jari Anda, sebelum menyentuh kateter
  • Kenakan masker mulut atau hidung
  • Amati teknik pertukaran steril yang benar
  • Oleskan krim antibiotik ke area keluar kateter setiap hari.

Segera laporkan kemungkinan kontaminasi cairan dialisis atau kateter ke perawat dialisis peritoneal Anda. Dalam banyak kasus, satu dosis antibiotik dapat mencegah kontaminasi berubah menjadi infeksi.

Pengobatan Peritonitis

Penderita peritonitis akan disarankan untuk menjalani rawat inap di rumah sakit. Beberapa penanganan bagi penderita peritonitis adalah:

  • Pemberian obat-obatan. Penderita akan diberikan antibiotik suntik atau obat antijamur bila dicurigai penyebabnya adalah infeksi jamur, untuk mengobati serta mencegah infeksi menyebar ke seluruh tubuh. Jangka waktu pengobatan akan disesuaikan dengan tingkat keparahan yang dialami pasien.
  • Pembedahan. Tindakan pembedahan dilakukan untuk membuang jaringan yang terinfeksi atau menutup robekan yang terjadi pada organ dalam.

Jika pasien mengalami sepsis atau infeksi yang sudah menyebar ke aliran darah, dokter bisa memberikan obat tambahan seperti obat untuk menjaga tekanan darah tetap normal.

Sedangkan untuk pasien yang menjalani CAPD, dokter akan menyuntikkan obat langsung ke dalam rongga peritoneum, melalui kateter yang sudah terpasang sebelumnya. Pasien juga disarankan untuk menghentikan aktivitas CAPD dan menggantinya dengan cuci darah untuk sementara, sampai pasien sembuh dari peritonitis.

Demikianlah pembahasan mengenai Penyebab, Gejala dan Pengobatan Peritonitis. Semoga bermanfaat, sekian dan terimakasih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here