Plasenta previa merupakan sebuah kondisi kehamilan yang berbahaya, di mana posisi plasenta (ari-ari) berada di bagian bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh leher rahim. Wikipedia mengatakan Plasenta previa adalah ketika plasenta menempel di dalam rahim tetapi dekat atau di atas pembukaan serviks.

Normalnya, plasenta memang berada di bagian bawah rahim pada awal masa kehamilan, namun seiring pertambahan usia kehamilan dan perkembangan rahim, plasenta akan bergerak ke atas. Pada kasus plasenta previa, posisi plasenta tidak bergerak dari bawah rahim hingga mendekati waktu persalinan.

Penyebab dan Faktor Risiko Plasenta Previa

Penyebab plasenta previa belum diketahui secara pasti, namun ada beberapa faktor yang diduga dapat membuat ibu hamil lebih berisiko menderita kondisi ini, yaitu:

  • Berusia 35 tahun atau lebih.
  • Merokok saat hamil atau menyalahgunakan kokain.
  • Memiliki bentuk rahim yang tidak normal.
  • Bukan kehamilan pertama.
  • Kehamilan sebelumnya juga mengalami plasenta previa.
  • Posisi janin tidak normal, misalnya sungsang atau lintang.
  • Hamil bayi kembar.
  • Pernah keguguran.
  • Pernah menjalani operasi pada rahim, seperti kuret, pengangkatan miom, atau operasi caesar.

Gejala dan Tanda Plasenta Previa

Perdarahan vagina setelah kehamilan minggu ke-20 adalah tanda utama plasenta previa. Meskipun perdarahan biasanya tidak menimbulkan rasa sakit, dalam beberapa kasus dapat dikaitkan dengan kontraksi uterus dan nyeri perut.

Perdarahan terjadi pada beberapa waktu di sebagian besar wanita dengan plasenta previa. Perdarahan juga dapat berkisar dari sedikit hingga deras.

Gejala plasenta previa dapat dikaitkan dengan komplikasi lain dari kehamilan termasuk:

  • Plasenta akreta terjadi ketika plasenta benar-benar tumbuh ke dalam dinding rahim, yang melekat pada lapisan otot dan mengakibatkan kesulitan memisahkan plasenta dari dinding rahim saat persalinan. Komplikasi ini dapat menyebabkan perdarahan yang mengancam jiwa dan umumnya memerlukan histerektomi pada saat yang sama dengan bedah caesar. Plasenta akreta terjadi pada 5 sampai 10% dari wanita dengan plasenta previa.
  • Ketuban pecah dini (KPD) dapat terjadi akibat perdarahan yang berhubungan dengan plasenta previa.
  • Kelainan lain dari plasenta atau tali pusat dapat dikaitkan dengan plasenta previa.
  • Sungsang atau presentasi janin abnormal dapat dikaitkan dengan plasenta previa karena ketidakmampuan kepala janin memasuki bagian bawah rahim.
  • Kemungkinan penurunan tingkat pertumbuhan janin (hambatan pertumbuhan janin intrauterine).
  • Gangguan emosi yang terkait dengan kecemasan yang diciptakan oleh pasien sendiri mengetahui bahwa ia memiliki plasenta previa.

Diagnosis Plasenta Previa

Dokter dapat menduga ibu hamil mengalami plasenta previa jika terjadi perdarahan di trimester kedua atau ketiga kehamilan. Namun untuk memastikannya, dokter akan melakukan sejumlah pemeriksaan berikut:

  • USG transvaginal
  • Prosedur ini dilakukan dengan memasukkan alat khusus ke dalam vagina untuk melihat kondisi vagina dan rahim. Pemeriksaan ini adalah metode paling akurat untuk menentukan letak plasenta.
  • USG panggul
  • Prosedur ini sama dengan USG transvaginal, tetapi alat hanya ditempelkan pada dinding perut, guna melihat kondisi di dalam rahim.
  • MRI (magnetic resonance imaging)
  • Prosedur ini digunakan untuk membantu dokter melihat dengan jelas posisi plasenta.

Jika ibu hamil mengalami plasenta previa, dokter kandungan akan terus memantau posisi plasenta atau ari-ari dengan USG secara berkala, sampai tiba hari persalinan.

Komplikasi Plasenta Previa

Plasenta previa bisa berbahaya, baik bagi ibu maupun janin. Pada ibu, plasenta previa dapat menyebabkan komplikasi berupa:

  • Syok. Syok terjadi akibat perdarahan berat ketika proses persalinan.
  • Penggumpalan darah. Komplikasi ini terjadi akibat perawatan di rumah sakit yang membuat ibu terlalu lama berbaring, sehingga darah lebih mudah

Sedangkan pada janin, komplikasi yang dapat terjadi akibat plasenta previa adalah:

  • Kelahiran prematur. Bila perdarahan terus berlangsung, bayi harus segera dilahirkan dengan operasi caesar, meskipun belum cukup bulan.
  • Asfiksia janin. Kondisi ini terjadi ketika janin tidak mendapat cukup oksigen saat di dalam kandungan.

Pada kondisi yang jarang terjadi, plasenta previa dapat menyebabkan jaringan plasenta tumbuh terlalu dalam, sehingga sulit untuk dikeluarkan (retensi plasenta). Kondisi ini akan memperburuk perdarahan.

Pencegahan Plasenta Previa

Plasenta previa biasanya tidak dapat dicegah. Dalam beberapa kasus, faktor risiko dapat dihilangkan (seperti berhenti merokok). Perdarahan dari plasenta previa dapat dikurangi dalam banyak kasus oleh istirahat di tempat tidur, pembatasan kegiatan, dan menghindari hubungan seksual.

Plasenta previa hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan untuk bedah caesar. Jika ada plasenta previa lengkap, bedah cesar akan diperlukan. Kebanyakan wanita dengan variasi lain dari plasenta previa juga akan membutuhkan bedah caesar.

Sebagian besar wanita dengan plasenta previa di negara maju dapat melahirkan bayi yang sehat, dan mortalitas (kematian) tingkat maternal adalah sekitar 1%. Di negara-negara berkembang di mana sumber daya medis mungkin kurang, risiko bagi ibu dan janin yang jauh lebih tinggi.

Pengobatan Plasenta Previa

Pengobatan plasenta previa bertujuan untuk mencegah perdarahan. Penanganan yang akan diberikan oleh dokter tergantung kepada kondisi kesehatan ibu dan janin, usia kandungan, posisi ari-ari, dan tingkat keparahan perdarahan.

Pada ibu hamil yang tidak mengalami perdarahan atau hanya mengalami perdarahan ringan, biasanya dokter akan memperbolehkan ibu hamil melakukan perawatan secara mandiri di rumah, yang berupa:

  • Banyak berbaring
  • Menghindari olahraga
  • Menghindari hubungan intim

Meskipun tidak membutuhkan perawatan di rumah sakit, pasien tetap harus waspada dan segera mencari pertolongan medis apabila perdarahan memburuk atau tidak berhenti.

Bila ibu hamil mengalami perdarahan hebat apalagi berulang, dokter kandungan akan menyarankan agar bayi dilahirkan secepatnya melalui operasi caesar.

Namun jika usia kandungannya kurang dari 36 minggu, ibu hamil akan diberikan suntikan obat kortikosteroid terlebih dahulu untuk mempercepat pematangan paru-paru janin. Bila perlu, ibu hamil juga akan diberikan transfusi darah untuk mengganti darah yang hilang.

Ibu hamil yang mengalami plasenta previa sebenarnya masih dapat melahirkan normal, asalkan letak plasenta tidak menutupi jalan lahir atau hanya menutupi sebagian. Tetapi jika plasenta menutupi seluruh jalan lahir, dokter akan menyarankan operasi caesar.

Demikianlah pembahasan mengenai Penyebab, Gejala dan Pengobatan Plasenta Previa. Semoga bermanfaat, sekian dan terimakasih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here