Pneumonia merupakan infeksi yang terjadi pada paru-paru. Gejala pneumonia yang terjadi dapat berupa batuk, demam, dan sesak napas. Wikipedia mengatakan Radang paru-paru atau pneumonia adalah kondisi inflamasi pada paru—utamanya memengaruhi kantung-kantung udara mikroskopik yang dikenal sebagai alveolus.

Penderita juga akan mengalami pembengkakan. Pneumonia terjadi karena adanya cairan pada alveoli atau kantung udara pada paru, tempat untuk pertukaran oksigen dengan karbon dioksida.

Bakteri, virus, dan jamur merupakan organisme yang dapat menyebabkan pneumonia. Namun pada penderita dewasa, kondisi ini paling sering disebabkan oleh infeksi bakteri.

Pneumonia merupakan salah satu penyebab kematian pada anak tertinggi di dunia. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa penyakit ini menjadi pemicu 16% kematian anak-anak berusia di bawah 5 tahun.

Pada tahun 2015, terdapat lebih dari 900.000 anak-anak yang meninggal akibat pneumonia. Di Indonesia sendiri, lebih dari 500.000 balita menderita pneumonia dan telah merenggut hampir 2.000 jiwa balita pada tahun 2017.

Penyebab Pneumonia

Pneumonia terjadi saat kuman mengalahkan sistem kekebalan tubuh, sehingga menimbulkan peradangan pada paru-paru. Infeksi yang paling sering terjadi disebabkan oleh bakteri dan virus dalam udara yang kita hirup. Berdasarkan kuman penyebabnya, pneumonia dapat digolongkan menjadi:

  • Pneumonia akibat bakteri. Bakteri penyebab pneumonia yang paling umum adalah Streptococcus pneumoniae. Sedangkan bakteri lainya adalah Chlamydophila pneumonia.
  • Pneumonia akibat virus. Sebagian virus penyebab batuk pilek atau flu juga bisa menyebabkan pneumonia. Pneumonia karena virus menimbulkan gejala yang lebih ringan dan lebih singkat dibanding pneumonia karena bakteri.
  • Pneumonia akibat jamur. Orang dapat terjangkit kondisi ini jika menghirup spora jamur dalam jumlah banyak, yang bisa didapat dari tanah atau kotoran burung. Pneumonia akibat jamur lebih rentan terkena pada orang yang memiliki penyakit kronis atau orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh rendah
  • Pneumonia mikoplasma. Mikoplasma adalah organisme yang bukan termasuk virus atau bakteri, tetapi memiliki ciri yang menyerupai keduanya. Pneumonia jenis ini tergolong ringan, dan lebih banyak diderita oleh anak-anak dan remaja.

Penyebaran infeksi dapat melalui percikan air liur yang dikeluarkan oleh penderita pneumonia ketika batuk atau bersin, yang tersebar di udara dan dihirup orang lain.

Semua orang bisa terserang penyakit ini, namun risiko terserang pneumonia biasanya lebih besar pada:

  • Bayi serta anak-anak berusia di bawah 2 tahun.
  • Lansia di atas 65 tahun.
  • Perokok. Rokok dapat mengganggu pertahanan tubuh alami dalam melawan bakteri atau virus penyebab pneumonia.
  • Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang rendah, misalnya penderita HIV, orang yang sedang menjalani kemoterapi, atau yang menjalani transplantasi organ.
  • Penderita penyakit paru kronis, seperti asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
  • Pasien di rumah sakit. Risiko terbesar mengalami pneumonia dapat terjadi pada pasien yang dirawat di ruang perawatan intensif, terutama pasien yang menggunakan alat bantu pernapasan atau ventilator.

Gejala Pneumonia

Pada umumnya, gejala pneumonia yang disebabkan oleh bakteri akan datang dengan cepat:

  • Anda mungkin akan mengalami batuk berdahak dari paru-paru Anda. Lendir mungkin berwarna kuning atau hijau atau bercampur dengan darah.
  • Bernapas cepat dan perasaan sesak napas.
  • Gemetar dan ‘gigi-gemeretak’ karena menggigil
  • Nyeri dada yang sering terasa lebih buruk ketika Anda batuk atau bernapas dalam.
  • Detak jantung cepat.
  • Merasa sangat lelah atau sangat lemah.
  • Mual dan muntah.

Oleh karena itu, memiliki sedikit pengetahuan mengenai askep pneumonia bisa menjadikan seseorang menjadi lebih mudah untuk menghindari serangan penyakit pneumonia yang tidak diinginkan ini.

Pemeriksaan penunjang bisa dilakukan terhadap pasien yang dicurigai mengalami pneumonia yaitu pemeriksaan berupa foto toraks sangat penting untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang kondisi paru-paru.

Salah satu bagian yang sangat penting dalam askep pneumonia adalah membersihkan jalan nafas pada penderita. Dokter atau perawat akan membersihkan saluran napas untuk mengurangi sputum dan menghindari pembentukan edema.

Selain itu, dokter juga akan melakukan tes laboraorium berupa tes darah dan tes dahak. Yang tidak kalah penting lagi, dokter juga akan memeriksa kadar oksigen dalam arah pasien, lantaran dalam banyak kasus, pasien pneumonia banyak yang mengalami kekurangan oksigen.

Penyakit pneumonia memang dapat menyebabkan oksigen bersih dari luar tidak dapat masuk bersama dengan sistem sirkulasi atau aliran darah.

Jangan panik, pneumonia adalah penyakit yang dapat diobati dengan melakukan penanganan medis yang tepat. Jika terkena pneumonia, sangat disarankan untuk pasien melakukan istirahat yang cukup.

Diagnosis Pneumonia

Setelah menanyakan gejala yang dialami penderita, dokter akan memeriksa rongga dada dengan menggunakan stetoskop untuk mengetahui kondisi paru-paru.

Jika pasien dicurigai menderita pneumonia, maka pemeriksaan penunjang diperlukan untuk dapat memastikan diagnosis tersebut. Pemeriksaan yang akan dilakukan, antara lain:

  • Pulse oximetry, yaitu proses pengukuran kadar oksigen dalam darah.
  • Foto Rontgen dada, untuk memastikan keberadaan pneumonia serta tingkat keparahannya.
  • Tes darah, untuk memastikan keberadaan infeksi dan mengidentifikasi jenis organisme yang menyebabkan infeksi.
  • Tes urine, untuk mengidentifikasi bakteri Streptococcus pneumonia dan Legionella pneumophila.
  • Pemeriksaan sampel dahak. Sampel dahak diambil untuk mengetahui penyebab infeksi.

Jika pasien berusia di atas 65 tahun dengan gejala yang lebih serius, maka dokter perlu melakukan pemeriksaan tambahan. Pemeriksaan tersebut berupa:

  • CT scan. Pemeriksaan kondisi paru-paru yang lebih detail ini dapat dilakukan jika gejala pneumonia tidak kunjung sembuh, untuk melihat kemungkinan penyebab lainnya.
  • Kultur cairan pleura. Sampel cairan pleura akan diambil dari rongga di antara iga untuk mengidentifikasi penyebab infeksi.
  • Bronkoskopi. Pemeriksaan ini dilakukan pada jalur udara di paru-paru dengan menggunakan alat bronkoskop. Bronkoskopi dilakukan jika gejala pneumonia sangat parah dan tubuh tidak bereaksi baik terhadap antibiotik.

Risoko Pneumonia

  • Merokok merupakan faktor risiko untuk terkena pneumonia
  • Memiliki kondisi medis lain, terutama penyakit paru-paru seperti penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) atau asma
  • Bayi kurang dari 1 tahun atau lansia lebih tua dari 65 tahun
  • Memiliki gangguan sistem kekebalan tubuh
  • Minum obat yang disebut proton pump inhibitor (seperti Prilosec atau Protonix) yang mengurangi jumlah asam lambung
  • Minum alkohol berlebihan
  • Baru-baru ini mengalami pilek atau flu

Anda lebih mungkin untuk memiliki komplikasi pneumonia dan harus mendapatkan penanganan rumah sakit jika Anda:

  • Lebih tua dari 65 tahun
  • Memiliki beberapa penyakit lain – seperti PPOK, diabetes, atau asma – atau pergi ke rumah sakit untuk masalah medis dalam 3 bulan terakhir
  • Pernah mengalami operasi pengambilan limpa atau tidak memiliki limpa yang bekerja- seperti pada penyakit sel sabit.
  • Punya masalah penggunaan alkohol
  • Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah
  • Tinggal di tempat di mana orang tinggal secara bersama-sama, seperti asrama atau panti jompo.

Komplikasi Pneumonia

Pneumonia bisa disembuhkan. Meski demikian, terdapat beberapa kelompok orang yang lebih berisiko mengalami komplikasi, seperti lansia dan balita. Sejumlah komplikasi pneumonia yang dapat terjadi adalah:

  • Infeksi aliran darah. Infeksi aliran darah atau bakteremia terjadi akibat adanya bakteri yang masuk ke dalam aliran darah dan menyebarkan infeksi ke organ-organ lain. Bakteremia berpotensi menyebabkan gagal berfungsinya banyak organ.
  • Abses paru atau paru bernanah. Abses paru dapat ditangani dengan antibiotik, namun terkadang juga membutuhkan tindakan medis untuk membuang nanahnya.
  • Efusi pleura. Kondisi di mana cairan memenuhi ruang yang menyelimuti paru-paru.

Pencegahan Pneumonia

Pencegahan pneumonia dapat kita lakukan dengan langkah-langkah sederhana. Beberapa di antaranya:

  • Menjalani vaksinasi. Vaksin merupakan salah satu langkah agar terhindar dari pneumonia. Harap diingat bahwa vaksin pneumonia bagi orang dewasa berbeda dengan anak-anak.
  • Mempertahankan sistem kekebalan tubuh. Hal ini dapat dilakukan dengan menjalankan pola hidup sehat, seperti cukup beristirahat, mengonsumsi makanan bergizi, dan rutin berolahraga.
  • Menjaga kebersihan. Contoh paling sederhana adalah sering mencuci tangan agar terhindar dari penyebaran virus atau bakteri penyebab pneumonia.
  • Berhenti merokok. Asap rokok dapat merusak paru-paru, sehingga paru-paru lebih mudah mengalami infeksi.
  • Hindari konsumsi minuman beralkohol. Kebiasaan ini akan menurunkan daya tahan paru-paru, sehingga lebih rentan terkena pneumonia beserta komplikasinya.

Pengobatan Pneumonia

Jika pneumonia disebabkan oleh bakteri, dokter akan memberikan antibiotik. Ini hampir selalu menyembuhkan penyakit pneumonia yang disebabkan oleh bakteri. Pastikan untuk meminum antibiotik persis seperti yang diperintahkan. Jangan berhenti meminum antibiotik hanya karena Anda merasa lebih baik. Anda perlu menghabiskan antibiotik yang diberikan.

Pneumonia dapat membuat Anda merasa sangat sakit. Tapi setelah Anda mengambil antibiotik, Anda biasanya mulai merasa jauh lebih baik. Hubungi dokter Anda jika Anda tidak mulai merasa lebih baik setelah 2 sampai 3 hari pemberian antibiotik. Hubungi dokter segera jika Anda merasa lebih buruk.

Ada hal-hal yang dapat Anda lakukan untuk merasa lebih baik selama perawatan. Banyak istirahat dan tidur, dan minum banyak cairan. Jangan merokok. Jika batuk Anda membuat Anda terjaga di malam hari, bicarakan dengan dokter Anda tentang penggunaan obat batuk.

Anda mungkin perlu untuk pergi ke rumah sakit jika mengalami perburukan gejala, sistem kekebalan tubuh lemah, atau penyakit serius lainnya.

Pneumonia disebabkan oleh virus dan biasanya tidak diobati dengan antibiotik. Kadang-kadang, antibiotik dapat digunakan untuk mencegah komplikasi. Tapi perawatan di rumah, seperti istirahat dan merawat batuk Anda adalah solusi untuk pneumonia karena virus.

Demikianlah pembahasan mengenai Penyebab, Gejala dan Pengobatan Pneumonia. Semoga bermanfaat, sekian dan terimakasih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here