Penyakit polio merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus polio. Polio ditularkan melalui air atau makanan yang terkontaminasi, atau melalui kontak dengan penderita polio. Wikipedia mengatakan Poliomielitis atau polio adalah penyakit menular yang disebabkan oleh poliovirus. Di sekitar 0,5% dari kasus polio terdapat kelemahan otot yang mengakibatkan kelumpuhan.

Sejak awal tahun 2014, WHO (World Health Organization) telah menyatakan Indonesia sebagai salah satu negara yang bebas dari penyakit ini berkat program vaksinasi polio yang luas, bersama dengan negara lainnya di Asia Tenggara, Pasifik Barat, Eropa, dan Amerika. Namun, penyakit ini masih rentan di negara seperti Afganistan dan Pakistan, dan Nigeria.

Penyebab Polio

Penyakit polio disebabkan oleh virus polio, virus yang sangat menular khusus untuk manusia. Virus ini biasanya memasuki lingkungan melewati tinja dari seseorang yang terinfeksi.

Di daerah dengan sanitasi yang buruk, virus mudah menyebar melalui rute fekal-oral, melalui air atau makanan yang terkontaminasi. Selain itu, kontak langsung dengan orang yang terinfeksi virus juga dapat menyebabkan polio.

Gejala Penyakit Polio

Kebanyakan penderita polio tidak menyadari bahwa diri mereka terinfeksi karena virus polio pada awalnya hanya menimbulkan sedikit gejala atau bahkan tidak sama sekali.

Penderita polio dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu polio non-paralisis, polio paralisis, dan sindrom pasca-polio.

Polio non-paralisis

Polio non-paralisis adalah tipe polio yang tidak menyebabkan kelumpuhan. Gejalanya tergolong ringan. Berikut ini adalah gejala polio non-paralisis yang umumnya berlangsung antara satu hingga sepuluh hari.

  • Muntah
  • Lemah otot
  • Demam
  • Meningitis
  • Merasa letih
  • Sakit tenggorokan
  • Sakit kepala
  • Kaki, tangan, leher, dan punggung terasa kaku dan sakit

Polio paralisis

Polio paralisis adalah tipe polio yang paling parah dan dapat menyebabkan kelumpuhan. Polio paralisis bisa dibagi berdasarkan bagian tubuh yang terjangkit, seperti batang otak, saraf tulang belakang, atau keduanya.

Gejala awal polio paralisis sering kali sama dengan polio non-paralisis, seperti sakit kepala dan demam. Gejala polio paralisis biasanya terjadi dalam jangka waktu sepekan, di antaranya adalah sakit atau lemah otot yang serius, kaki dan lengan terasa terkulai atau lemah, dan kehilangan refleks tubuh.

Beberapa penderita polio paralisis bisa mengalami kelumpuhan dengan sangat cepat atau bahkan dalam hitungan jam saja setelah terinfeksi dan kadang-kadang kelumpuhan hanya terjadi pada salah satu sisi tubuh. Saluran pernapasan mungkin bisa terhambat atau tidak berfungsi, sehingga membutuhkan penanganan medis darurat.

Sindrom pasca-polio

Sindrom pasca-polio biasanya menimpa orang-orang yang rata-rata 30-40 tahun sebelumnya pernah menderita penyakit polio. Gejala yang sering terjadi di antaranya:

  • Sulit bernapas atau menelan.
  • Sulit berkonsentrasi atau mengingat.
  • Persendian atau otot makin lemah dan terasa sakit.
  • Kelainan bentuk kaki atau pergelangan.
  • Depresi atau mudah berubah suasana hati.
  • Gangguan tidur dengan disertai kesulitan bernapas.
  • Mudah lelah.
  • Massa otot tubuh menurun (atrophia).
  • Tidak kuat menahan suhu dingin.

Diagnosis Polio

Penyakit polio sering dikeluhkan karena menimbulkan gejala seperti kekakuan leher, refleks anggota gerak yang tidak normal, kesulitan menelan dan kesulitan bernapas.

Dokter yang mencurigai penyakit polio akan melakukan tes laboratorium dengan memeriksa virus polio menggunakan sekresi tenggorokan, sampel tinja, atau cairan serebrospinal.

Komplikasi Polio

Kecacatan, kelainan bentuk kaki dan pinggul, serta kelumpuhan sementara atau permanen dapat terjadi akibat polio paralisis.

Walaupun operasi dan terapi fisik bisa dilakukan untuk mengatasi kelainan bentuk pada persendian, tindakan ini tidak disarankan bagi penderita yang berada di lingkungan polio aktif karena dapat mengakibatkan potensi disabilitas seumur hidup.

Pencegahan Polio

Imunisasi merupakan tindakan yang paling efektif dalam mencegah penyakit polio. Pencegahan penyakit polio dapat dilakukan dengan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pemberian imunisasi polio pada anak-anak.

Maka dari itu, langkah pencegahan melalui imunisasi masih sangat penting dilakukan. Hal ini bertujuan untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit polio seumur hidup, terutama pada anak-anak. Anak-anak harus diberikan empat dosis vaksin polio tidak aktif, yaitu pada saat mereka berusia 2 bulan, 4 bulan, antara 6 – 18 bulan, dan yang terakhir adalah pada usia antara 4 – 6 tahun.

Saat ini terdapat dua vaksin yang tersedia untuk melawan penyakit polio yaitu vaksin dengan virus polio inaktif (IPV) dan vaksin polio oral (OPV).

  • IPV terdiri dari serangkaian suntikan dimulai dari 2 bulan setelah lahir dan berlanjut sampai anak berusia 4-6 tahun. Vaksin ini dibuat dari virus polio tidak aktif, tapi sangat aman dan efektif dan tidak dapat menyebabkan polio.
  • OPV diciptakan dari bentuk lemah atau dilemahkan dari virus polio, dan menjadi vaksin pilihan di banyak negara karena biaya yang lebih murah, kemudahan pemberian, dan kemampuan untuk memberikan kekebalan yang sangat baik dalam usus. Namun, OPV juga dikenal untuk dapat kembali ke bentuk berbahaya dari virus polio yang mampu melumpuhkan orang yang divaksin, sehingga dibutuhkan kondisi prima untuk menerima OPV.

Sedangkan, orang dewasa yang harus mendapatkan serangkaian vaksin polio adalah mereka yang belum pernah divaksinasi atau status vaksinasinya tidak jelas. Sementara itu, vaksinasi polio booster sangat dianjurkan pada siapa pun yang tidak divaksinasi atau tidak yakin jika dirinya pernah divaksinasi.

Pengobatan Polio

Tidak ada obat untuk polio setelah seseorang sudah terinfeksi. Oleh karenanya, perawatan difokuskan pada peningkatan kenyamanan penderita, mengelola gejala, dan mencegah komplikasi.

Ini dapat meliputi pemberian antibiotik untuk infeksi tambahan, penghilang rasa sakit, ventilator untuk membantu pernapasan, fisioterapi, latihan moderat, dan diet yang tepat.

Demikianlah pembahasan mengenai Penyebab, Gejala dan Pengobatan Polio. Semoga bermanfaat, sekian dan terimakasih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here